Wednesday, September 9, 2009

MALAM BERTUAH ITU KEMBALI LAGI




Keutamaan Lailatul Qadar


Mengenai pengertian lailatul qadar, para ulama ada beberapa versi pendapat. Ada yang mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam kemuliaan. Ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar adalah malam yang penuh sesak karena ketika itu banyak malaikat turun ke dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa malam tersebut adalah malam penetapan takdir. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa lailatul qadar dinamakan demikian karena pada malam tersebut turun kitab yang mulia, turun rahmat dan turun malaikat yang mulia.[1] Semua makna lailatul qadar yang sudah disebutkan ini adalah benar.


Adapun keutamaan lailatul qadar adalah:


Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ , فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ


“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4).


Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ


“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)


Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ , تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ , سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر


“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5).


Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga.[2]


Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar.[3]


Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.”[4]


Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.[5]


Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[6]


Bilakah Lailatul Qadar Terjadi? Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.”[7]


Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ


“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.”[8]


Lalu bilakah tarikh pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun[9].


Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى


“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” [10]


Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.[11]


Do’a di Malam Lailatul Qadar


Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »


”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab,”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”[12]


Tanda Malam Lailatul Qadar

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء


“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.”[13]


Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.”[14] [15]


Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?


Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فِيهِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ


“Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.”[16]


Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.


“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.”[17]


Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan,
كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ


“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’[18]), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.”[19]


Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu.[20]


Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan kebanyakan malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam, Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah.[21]


Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an.[22]


Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[23]



Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?


Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.”[24]


Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah,


1. Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf.[25]


2. Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya.


3. Memperbanyak istighfar.


4. Memperbanyak do’a.[26]



Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah.[27] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.[28]


Beberapa hal yang bisa diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.


Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ


“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”(QS. Al Baqarah: 187).


Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.


Menurut kebanyakan ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri'tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih diperselisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).


Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat:

(1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).


Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah:

(1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada keperluan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub , yang hanya bisa dilakukan di luar masjid),

(2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah : 187 di atas.


Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya:

(1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid.

(2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain.

(3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya.

(4) Mandi dan berwudhu di masjid.

(5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.


Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.


Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. [29]


Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan.


Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal



Footnote:
[1] Periksa Zaadul Maysir, 6/177, Ibnul Jauziy, Mawqi’ At Tafaasir, Asy Syamilah
[2] Periksa Zaadul Maysir, 6/179
[3] -idem-, 6/180
[4] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, 1428 H.
[5] Periksa Zaadul Maysir, 6/179
[6] HR. Bukhari no. 1901.
[7] HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169
[8] HR. Bukhari no. 2017
[9] Lihat Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah.
[10] HR. Bukhari no. 2021
[11] -idem-
[12] HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun ...” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25.
[13] HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya
[14] HR. Muslim no. 1174
[15] Lihat pembahasan di Shahih Fiqih Sunnah, 2/149-150, Abu Malik, Maktabah At Taufiqiyyah.
[16] HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[17] HR. Muslim no. 1175
[18] Lihat tafsiran ini di Latho-if Al Ma’arif, hal. 332
[19] HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174
[20] Latho-if Al Ma’arif, hal. 331
[21] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 329
[22] Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
[23] HR. Bukhari no. 1901.
[24] Latho-if Al Ma’arif, hal. 331
[25] Dalam at Tamhid (17/397, Syamilah), Ibnu Abdil Barr berkata, “Para pakar fiqh dari berbagai kota baik Madinah, Iraq dan Syam tidak berselisih pendapat bahwa mushaf tidaklah boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci dalam artian berwudhu. Inilah pendapat Imam Malik, Syafii, Abu Hanifah, Sufyan ats Tsauri, al Auzai, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuyah, Abu Tsaur dan Abu Ubaid. Merekalah para pakar fiqh dan hadits di masanya.
[26] Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753
[27] HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172.
[28] Latho-if Al Ma’arif, hal. 338
[29] Pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158


p/s: SELAMAT BERIBADAH KEPADA SEMUA. MOGA ALLAH TERIMA SEGALA AMAL-AMAL KITA.AMEEN..


20 RAMADHAN 1430H

Thursday, August 27, 2009

MEMERDEKAKAN RAMADHAN



Ramadhan semakin menuju separuh masanya yang pertama, dan alhamduliLLAH kita masih diberi kesempatan meneruskan ibadah puasa sehingga hari ini. Pastinya kebanyakan kita dah hafal ayat tentang puasa dalam Al-Quran, kerana saban tahun diulang-ulang ayat yang sama, jangan sampai dah berpuluh tahun puasa masih belum jumpa ayat tersebut, kerana kita inginkan kefahaman kita tentang puasa lebih baik dari sebelumnya, bukan sekadar ikutan lagi tapi dengan keinginan yang hadir dengan kefahaman yang lebih baik tahun ini.Ameen

Apa kaitannya merdeka dengan ramadhan?

Kebetulan tahun ini hari kemerdekaan disambut dalam bulan ramadhan, itulah kaitannya, sekadar ingin meminjam istilah merdeka untuk diaplikasikan dalam bulan ramadhan, juga agar tidak perlu menulis dua entry untuk dua tajuk, save masa (baca: alasan je nie)

Istilah merdeka mempunyai definisi yang pelbagai bergantung kepada siapa kita bertanya.

“Merdeka itu kebebasan melakukan apa sahaja” kata-kata seorang pelumba tidak terlatih di jalan biasa.

“Merdeka itu tanda Negara bebas dari penjajah asing!!” penuh bersemangat seorang pejuang bangsa mengucapkannya

“Merdeka itu bebas dari ideologi, sosial dan peribadi penjajah” tazkirah seorang ustaz di sebuah masjid kampung yang penuh dengan generasi akhir umur.

Apa pula jawapan kita andai ditanya soalan yang sama, bergantung pada tahap kefahaman kita dan bagaimana kita melihat merdeka itu sendiri. Terpulang pada diri masing-masing bagaimana nak menjawabnya.

Menjelang ramadhan yang masih awal ini, perlu juga rasanya dimerdekakan ramadhan dari segala unsur-unsur yang boleh merosakkannya. Bulan yang penuh keberkahan ini pastinya tidak wajar kita merosakkannya. Bahkan banyak hadis menyatakan akan kelebihan ramadhan antaranya.

"Telah datang kepada kalian bulan Ramadan. Bulan keberkahan yang Allah wajibkan kepada puasa di dalamnya. Dalam bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapat kebaikan di dalamnya, maka ia telah luput dari banyak kebaikan." (H.R. Ahmad)

Seharusnya kita memanfaatkan bulan ramadhan ini untuk menilai kembali ibadah kita, menambah kembali kefahaman kita tentang puasa dan agama dan memperbaiki akhlak kita dalam bulan yang mulia ini. Jangan biarkan kesibukan kita menghalang kita menambah amal dan iman kerana ia mungkin ramadhan kita yang terakhir. Begitu juga kita tidak ingin puasa kali ini hanya sekadar menahan lapar dan dahaga semata-mata. Begitulah Quran mengungkapkan kalimah “La’ala” iaitu “mudah-mudahan” sebagai peluang untuk kita meraih taqwa ataupun tidak. The choice is in your hand.

Demikian kita melihat walau berada di bulan mulia yang mana dikhabarkan syaitan-syaitan telah dibelenggu, namun masih ada kemungkaran yang terjadi. Adakah masih ada syaitan yang terlepas atau diri sudah ditransform bersifat seperti syaitan. Nauzubilah

Lihatlah di dalam berita-berita yang menulis tentang jenayah yang masih berlaku di bulan ramadhan ini, ia agak menyedihkan juga memalukan kita sebagai umat Islam.
Begitu juga kita sendiri harus berhati-hati kerana walaupun tidak melakukan jenayah namun terkadang ada kesilapan yang kita buat.

Berapa ramai yang sukar menjaga pandangan matanya di pasar ramadhan

Berapa ramai yang masih berdua-duaan sesama bukan mahram di tengah kesunyian mahupun kesibukan kota dan kampung

Berapa ramai yang mengabaikan bangun sahur dengan sengaja

Berapa ramai yang ghairah membeli berpuluh juadah makanan untuk seorang

Berapa ramai yang melantak berpinggan-pinggan saat berbuka

Berapa ramai yang segera menunaikan solat maghrib setelah berbuka

Berapa ramai yang menghidupkan malam ramadhannya dengan ibadah

Tidak perlu dijawab kerana yang lebih penting untuk dinilai adalah diri kita sendiri, demikian kita sering melihat kesalahan orang lain, sebenarnya kita membuka kesalahan diri kita sendiri dengan melupakan kesilapan yang kita buat.

Mudah-mudah kalimah taqwa itu masih dapat kita usahakan di sela waktu yang masih diberi Tuhan, bimbang saat itu tidak kembali lagi. Maafkan segala salah silap andai ada yang tersalah kata dan bicara. Ini hanya peringatan buat diri agar lebih menghargai peluang yang diberi.Ameen

Salam kemerdekaan ke 52 buat negaraku yang tercinta

Ayuh kita Memerdekakan Ramadhan kita kali ini.

MERDEKA!!!!! 3X

“Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang yang dahulu daripada kamu, mudah-mudahan kamu bertaqwa”[2:183]

Ameen ya rabbal a’lameen

Regards
Mohd Halimi Abdul Aziz
7 Ramadhan 1430H



Wednesday, August 19, 2009

MADRASAH RAMADHAN KEMBALI LAGI


TEGARKAN DIRI DI JALAN-NYA
TULUSKAN HATI MEMOHON MAGHFIRAH-NYA
FASIHKAN LIDAH DENGAN KALIMAH-NYA
HIASI DIRI DENGAN AKHLAQ-NYA
MENIKMATI HARI-HARI YANG DIBERKATI
PENDUDUK LANGIT DAN BUMI
MARHABAN YA RAMADHAN